WALHI Tolak Pelabuhan dan Ijin Tambang

Walhi Jabar

BANDUNG—Banyaknya kerusakan yang terjadi di kawasan Jawa Barat Selatan, membuat Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat bersikap tegas. Menurut Walhi Jabar, saat ini perusakan lingkungan hidup di kawasan tersebut karena adanya beragam aktivitas untuk pembangunan.

“Kegiatan perusakan tersebut sering kali mengatas namakan pembangunan dan untuk kesejahteraan rakyat,” tegas Direktur Eksekutif Walhi Jabar Dadan Ramdan dalam siaran persnya yang diterima kepadamu.com (5/9).

Dalam kenyataannya, bukanlah kesejahteraan yang didapat masyarakat namun sejumlah kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan di Jabar Selatan tersebut misalnya, di tandai dengan kerusakan kawasan lindung dan konservasi seperti cagar alam hutan dan cagar alam laut, ekosistem bakau/mangrove, abrasi pantai, pencemaran, mundurnya garis pantai serta kerusakan ekosistem pantai dan pesisir lainnya.

“Ancaman rusaknya bentang alam kawasan pesisir dan pantai berada di garis pantai sepanjang 398 Km seluas  5840 ha wilayah pesisir pantai yang meliputi  27 kecamatan di 5 kabupaten (Cianjur, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis) berada pada kondisi rusak dan terancam,” lanjut Dadan Ramdani.

Selain itu, faktor penyebab lainnya adalah adanya alih fungsi lahan untuk pengembangan infrastruktur jalan, dan sarana lainnya, penggarapan lahan hutan yang tidak ramah lingkungan, pencemaran oleh limbah dan sampah domestik dan sarana wisata serta eksploitasi pertambangan pasir besi yang membabi buta baik yang legal maupun yang illegal serta pertambangan bahan galian lainya seperti galena, emas dan galian batu dan pasir lainnya seperti yang diterjadi di kabupaten Garut dan sekitarnya.

Untuk itu, Walhi Jabar menuntut kepada pemerintahan di kawasan Jawa Barat Selatan untuk menghentikan ijin tambang pasir besi dan jenis bahan tambang lainnya, menolak
ijin tambang baru dan pembangunan pelabuhan yang akan menguntungkan pihak perusahaan dan pemodal asing, dan mendesak  untuk dilakukan rehabilitasi dan reklamasi di lahan bekas penambangan.***

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>