Entong Gendut, Pendekar Pejuang Kaum Tani

Eksplorasi sejarah Jakarta yang penulis lakukan kembali menemukan satu nama lagi yang sangat terkait dengan perjuangan melawan kekuasaan tuan tanah yang kawin-mawin dengan otoritas kolonial Belanda di Batavia. Nama itu adalah Entong Gendut, seorang pendekar atau jawara Betawi dari daerah Condet.

Salah satu sumber pustaka yang mengulas sepak terjang Entong Gendut dalam kancah perjuangan rakyat di Batavia melawan penindasan tuan tanah dan penguasa kolonial adalah buku karya Prof Sartono Kartodirdjo: Protest, Movements in Rural Java, sebuah buku yang mendeskripsikan berbagai gerakan protes petani di Pulau Jawa pada penghujung abad 19 dan awal abad 20.

Masa itu merupakan era swastanisasi tanah serta ditandai oleh kemunculan tanah-tanah partikelir yang dimiliki oleh pihak swasta asing maupun golongan feodal lokal. Perlawanan Entong Gendut dan kelompoknya terjadi pada masa itu dan menjadi salah satu ulasan dalam buku karya Prof Sartono Kartodirdjo tersebut.

Pendekar dari Condet

Masa penjajahan Belanda di awal abad ke 20 merupakan masa-masa penuh kepahitan bagi rakyat yang hidup di salah satu daerah di Batavia, Condet. Rakyat, yang sebagian besar hidup sebagai petani dengan menggarap lahan dan kebun milik tuan tanah, senantiasa berada dalam kondisi tertindas akibat berbagai kebijakan pajak atau blasting produk penguasa kolonial yang memihak tuan tanah. Pajak sewa tanah tersebut harus dibayarkan oleh petani penggarap kepada tuan tanah setiap minggu dengan jumlah yang sangat  memberatkan bagi rakyat (25 sen). Konsekuensi bagi penduduk yang tak mampu membayar blasting adalah melakukan kerja paksa  berupa penggarapan sawah dan kebun tuan tanah atau aparat kolonial dalam jangka waktu sepekan.

Kondisi obyektif demikian memunculkan banyak reaksi dari kalangan rakyat terhadap penindasan sistem kolonial. Tentu saja reaksi yang banyak muncul dari rakyat berupa amarah, kebencian, bahkan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kolonial dan tuan tanah. Salah satu reaksi yang bernuansa kemarahan hingga akhirnya termanifestasi dalam suatu perlawanan ialah reaksi yang ditampilkan oleh Entong Gendut. Beliau adalah seorang tokoh pendekar yang juga kesohor dengan nama Haji Entong Gendut. Ia memobilisasi warga Condet yang merasakan kebencian serupa terhadap kolonialisme untuk melakukan perlawanan secara terbuka.

Aksi perlawanan yang dilakukan Entong Gendut dan kelompoknya pertama kali ditunjukkan ketika pengadilan kolonial (landraad). Itu terjadi ketika landraad mengeksekusi putusannya yang menuntut seorang petani bernama Taba untuk membayar uang kepada tuan tanah sebesar 7.20 gulden pada bulan Februari 1916. Aparatur hukum kolonial memberikan peringatan pada Taba, agar patuh pada putusan tersebut jika tidak ingin harta benda miliknya disita pengadilan. Pada moment inilah kelompok Entong Gendut memaki-maki aparat pengadilan dengan kata-kata sarkastik. Perlawanan ini  memang lebih bercorak perlawanan verbal.

Perlawanan frontal dari Entong Gendut dan kawan-kawan terjadi pada 15 April 1916 di depan Villa Nova, milik seorang tuan tanah Eropa yang bernama Lady Rollinson. Lady Rollinson adalah seorang Eropa yang memiliki tanah dengan areal sangat luas di daerah Cililitan. Pada saat itu, kelompok Entong Gendut melempari mobil milik tuan tanah dari Tanjung Oost  bernama Ament yang sedang berkunjung ke rumah Lady Rollinson sebagai tamu undangan dalam pesta yang diselenggarakan sang Lady.

Tak hanya sampai disitu, menjelang malam hari ketika pesta di villa Lady mencapai ‘klimaks’ nya, kelompok Entong Gendut membuat sabotase dan kerusuhan yang menyebabkan pesta tersebut berhenti. Peristiwa ini membuat nama Entong Gendut masuk daftar hitam perburuan aparat keamanan Belanda di Batavia.

Berbagai upaya yang dilakukan pihak pemerintah kolonial untuk menangkap Entong Gendut pun dilakukan. Hingga akhirnya, Wedana dari Meester Cornelis dan pasukan polisi Belanda berhasil mengepung rumah Entong Gendut di daerah Batuampar pada pertengahan bulan April 1916. Entong Gendut  menghadapi Wedana dan pasukannya dengan membawa tombak, keris dan bendera merah berlambang bulan sabit putih. Sambil mengklaim bahwa dirinya adalah raja muda dari Betawi, ia dan kelompoknya menyerang pasukan Wedana secara frontal. Pertempuran antara penindas dengan pihak tertindas pun berkecamuk. Dalam pertempuran tersebut, kelompok Entong Gendut yang dibantu rakyat berhasil menawan wedana. Namun hal tersebut harus ditebus dengan kematian Entong Gendut oleh peluru pasukan Belanda. Entong Gendut pun tewas sebagai pengacau bagi penguasa kolonial, namun pahlawan bagi rakyat pribumi di Condet dan Batavia pada umumnya.

Sejarah yang Berulang

Kondisi ketertindasan yang dialami kaum tani hingga akhirnya membuahkan perlawanan Entong Gendut serta rakyat tani di Condet puluhan tahun lalu seolah menjadi ‘tayangan’ sejarah yang terus berulang sampai kini. Produksi berbagai regulasi yang tidak berpihak pada rakyat tani namun menguntungkan korporasi (sebagai “tuan tanah” dalam moda produksi kapitalis) mulai terjadi di era Orde Baru, dan semakin masif pada era reformasi.

Perampasan tanah, penggusuran, pemenjaraan hingga pembunuhan para aktifis petani menjadi hal yang lumrah di era reformasi sekaligus era neo-liberal ini. Bahkan penindasan bagi kaum tani makin menjadi tatkala pemerintahan SBY-Boediono serta parlemen berniat mengesahkan RUU Pengadaan Tanah paling lambat akhir tahun ini. Draft RUU yang lebih banyak memihak kepentingan pemodal di bidang infrastruktur ini merupakan “karpet merah” bagi kaum kapitalis, namun ‘kuburan’ bagi kaum tani. Figur dan semangat Entong Gendut serta kawan-kawannya masih dibutuhkan ketika “penghisapan darah” kaum tani masih dilakukan oleh aparatur kekuasaan politik dan ekonomi, semangat untuk melawan sebelum mereka menghisap habis darah kaum tani negeri ini.

Hiski Darmayana

Alumni Antropologi Unpad

 

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>