Tips sukses untuk UKM

Yang paling penting, meski sudah banyak diketahui, ialah pastikan bahwa usaha baru Anda menciptakan sesuatu entah itu produk atau jasa yang memberikan manfaat nyata bagi konsumen. Produk atau jasa ini begitu berguna dan diinginkan hingga konsumen tidak akan mampu menolaknya jika ditawari. Mayoritas UKM dan bisnis baru cenderung memberikan produk atau jasanya secara gratis atau hampir gratis alias dengan harga yang amat murah. Menurut Lacy, hal ini bisa membuat konsumen lupa akan manfaat lebih besar yang bisa diperoleh dari bisnis yang berbayar. Apalagi di pasar Indonesia, yang masyarakatnya terkenal lebih menyukai barang/ jasa gratis. Bagi pengusaha/ entrepreneur yang menjual produk/ jasanya (bukan memberikan secara gratis), sisi positifnya ialah mereka akan mendapatkan saran dan kritik untuk menyempurnakan produk atau jasa tersebut. Dan jika memang produk/ jasa Anda bagus, Anda akan menemukan banyak pujian yang menyalakan api semangat untuk terus maju. Saat Anda memberikan barang dan jasa gratis, konsumen hanya akan menggunakannya sesuka hati tanpa merasa ada ikatan untuk memberikan saran atau kritik.

 

Pengusaha UKM juga perlu meyakini sepenuh hati akan ide bisnis mereka, kata Lacy. Ide bisnis ini haruslah sesuatu yang Anda dengan sukarela lakukan dalam waktu lama karena inilah yang akan membuat orang lain tertarik pada ide itu. Jika Anda bisa membuat orang menyaksikan betapa Anda bersedia mendedikasikan waktu dan tenaga serta modal untuk kemajuan realisasi ide bisnis itu, mereka akan lebih yakin untuk menjadi karyawan, konsumen, investor atau mitra bisnis. Hal inilah yang akan menular pada benak orang lain. Antusiasme, dedikasi, dan passion yang Anda tunjukkan akan menarik kuat dukungan pihak lain bagaikan magnet menarik benda logam apapun di sekelilingnya. Untuk itulah Anda harus yakin 100% bahwa Anda sedang melakukan sebuah bisnis yang harus ada di dunia ini untuk membantu masyarakat mengatasi masalah mereka. Keinginan untuk mencetak laba dan terkenal mungkin menjadi godaan yang banyak ditemui entrepreneur pemula namun itu semua hanyalah bonus. Yang terpenting ialah passion.

 

Bersikap positif dan sepenuhnya terbuka ialah saran marketing berikutnya yang diberikan Lacy. Menurutnya, banyak entrepreneur muda yang ia temui di Asia, Amerika Selatan dan Afrika yang sangat tertutup jika diajak bicara mengenai ide bisnis mereka. Mereka cemas jika ide bisnis itu banyak diketahui orang, ide itu akan dicuri. Padahal, kata Lacy, ide itu murah. Di Silicon Valley, tak terhitung banyaknya ide yang dicetuskan setiap harinya. Ide itu begitu banyak hingga nilainya sangat murah, bahkan nol. Semua orang bisa memiliki ide bagus. Namun, apa yang membedakan kelak ialah realisasinya. Eksekusi ide bisnis itu yang memberikan perbedaan. Saat sebuah ide bisnis yang paling cemerlang kelihatannya sekalipun cuma disimpan dalam benak saja, ia tidak akan memiliki nilai karena tidak bisa diwujudkan secara maksimal. Lacy berkata apa yang membuat Silicon Valley menjadi ekosistem yang ideal bagi entrepreneur ialah atmosfer keterbukaan yang menyelimuti orang-orang di dalamnya. Para entrepreneur Silicon Valley meyakini bahwa ide hanyalah ide.

 

Untuk menjadi sukses, entrepreneur UKM atau startup juga perlu bersikap agresif dalam mencari mentor atau pihak manapun yang akan dapat membantu mewujudkan dan memajukan bisnis. Di Silicon Valley, kata Lacy, banyak entrepreneur muda yang tak segan menelepon atau menghubungi entrepreneur yang lebih mapan untuk meminta bantuan atau saran mengenai startup mereka. Sering entrepreneur pemula akan mengajak calon mentor untuk minum kopi bersama. “Anda tak akan pernah tahu jika seseorang bersedia atau tidak, jadi Anda haruslah bertanya pada mereka. Agresivitas diperlukan agar bisa berhasil,” ujar Lacy.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>