Jumlah ekonomi kelas menengah Indonesia meningkat

Laporan Bank Dunia menyebutkan, pertumbuhan pada kelas menengah Indonesia mencapai 7 juta jiwa per tahun. Laporan tersebut menyebutkan juga bahwa terjadi pergeseran yang menakjubkan dalam kelas menengah ini, tahun 2003 jumlah kelas menengah adalah 37,7 persen dari jumlah penduduk menjadi 56,5 persen pada tahun 2012.

Pendapatan per kapita Indonesia saat ini adalah 3.550 dollar AS per tahun dan menurut IMF PDB per kapita Indonesia saat ini adalah 3.797 dollar AS, posisi Indonesia dari posisi negara berpendapatan rendah sedang menuju ke negara berpendapatan menengah, Bank Dunia juga mengelompokkan negara-negara di dunia ke dalam empat kelompok pendapatan. Kelompok ini diatur setiap tahun pada tanggal 1 Juli. Ekonomi yang terbagi menurut pendapatan nasional per kapita 2008 menggunakan tingkatan pendapatan berikut: Negara pendapatan rendah memiliki PN per kapita US$975 atau kurang.Negara pendapatan menengah bawah memiliki PN per kapita antara US$976 dan US$3.855.Negara pendapatan menengah atas memiliki PN per kapita antara US$3.856 dan US$11.905. Negara pendapatan tinggi memiliki PN per kapita lebih dari US$11.906.

Catatan keberhasilan Indonesia ini merupakan tantangan untuk kita terus memaju pertumbuhan ekonomi menjadi negara dengan berpendapatan tinggi atau negara maju. Indonesia membutuhkan modal kuat untuk memacu pertumbuhan ekonomi, modal tersebut seperti teori sederhana adalah faktor produksi yang harus kita miliki, sumberdaya manusia, sumberdaya alam, teknologi atau ilmu pengetahuan.

Sumber daya alam Indonesia tidak akan diragukan lagi, sumber daya manusia yang masih harus terus kita kembangkan, salah satu direktur Bank Papua menyampaikan pada saya tentang pentingnya ‘Affirmative Action’ atau bagaimana anak-anak Papua mengejar ketertinggalannya menjadi siap bersaing dan sejajar dengan kualitas SDM dunia.

Akhir Maret lalu Bank Pembangunan Asia mengeluarkan buku ‘Diagnosing The Indonesian Economy: Toward Inclusive and Green Growth’, buku ini menjadi peringatan agar Indonesia tidak terjebak pada keberhasilan masuk di ekonomi menengah.

Cara yang penting untuk menghindari jebakan ini adalah kita tidak berhenti pada eksplorasi bahan mentah sumber daya alam, namun yang utama adalah inovasi dalam memberi nilai tambah pada produk-produk yang telah ada selama ini. Sebagai contoh rumput laut , kita tahu banyaknya produk turunan rumput laut puluhan jumlahnya, namun berapa yang diolah industri local Indonesia? Kita akan heran makan snack rumput laut dari Singapura, yang tidak punya rumput laut.

Saatnya Indonesia memberikan inovasi pada produk-produk yang bisa memiliki nilai tambah untuk menuju Indonesia Negara Maju.

(Fadjar Ari/IC/MD)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>