Bendungan Kuno Terbesar Suku Maya Ditemukan

Bendungan Kuno Suku Maya

Bendungan Kuno Suku Maya

REDAKSI- Belum hilang keterkejutan publik dunia atas penemuan “Saluran Irigasi Purba” di situs Trowulan oleh para peneliti Katastropik Purba. Kini, di Amerika Tengah juga ditemukan bendungan kuno terbesar yang dibangun oleh suku Maya. Bendungan yang dibangun dari batu, tanah, dan reruntuhan ini terbentang lebih dari 80 meter panjangnya, berdiri setinggi 10 meter, serta menopang sekitar 20 juta galon air dalam sebuah reservoir buatan manusia.

Penemuan sistem pengairan dan penggunaan lahan Maya purba ini di Tikal, berlokasi di Guatemala utara, dijadwalkan muncul minggu ini dalam  Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) dalam artikel berjudul “Water and Sustainable Land Use at the Ancient Tropical City of Tikal, Guatemala.”

Penelitian ini memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana Maya melestarikan dan menggunakan sumberdaya alam untuk mendukung masyarakat yang padat dan sangat kompleks selama 1500 tahun walaupun terdapat tantangan lingkungan, termasuk kekeringan periodik.

Makalah yang ditulis oleh  Vernon Scarborough, profesor antropologi UC; Nicholas Dunning, profesor geografi UC; arkeolog Kenneth Tankersley, asisten profesor antropologi UC; Christopher Carr, mahasiswa doktoral di bidang geografi di UC; Eric Weaver, mahasiswa doktoral bidang geografi di UC; Liwy Grazioso dari   Universidad de San Carlos de Guatemala; Brian Lane, mantan mahasiswa s2 dalam antropologi yang sekarang sedang mengejar studi doktoral di Universitas Hawaii; John Jones, asisten profesor antropologi,  Washington State University; Palma Buttles, anggota senior staf teknis, SEI Carnegie Mellon University; Fred Valdez, profesor antropologi, Universitas Texas-Austin, dan David Lentz, profesor biologi UC.

Dimulai tahun 2009, tim UC adalah kelompok Amerika Utama yang pertama diizinkan bekerja di inti situs Tikal selama lebih dari 40 tahun.

Detail dari temuan terbaru tim yang dipimpin UC antara lain: Bendungan kuno terbesar yang dibangun Maya kuno di Amerika Tengah. Pembahasan mengenai bagaimana air reservoir dilepaskan. Detail konstruksi cofferdam yang dibutuhkan Maya untuk mengeruk salah satu reservoir terbesar di Tikal. Keberadaan mata air kuno yang berhubungan dengan kolonisasi awal Tikal. Penggunaan saringan pasir untuk membersihkan air yang memasuki reservoir. Sebuah stasiun pemindah yang mengakomodasi pengisian dan pelepasan air musiman.

Penemuan segmen parit terdalam dan dari batu yang dipotong di dataran rendah Maya. Sebuah contoh vegetasi tebal yang umum di wilayah ini dimana tim yang dipimpin UC bekerja di dan di sekitar Tikal.

Menurut Scarborough, “Tujuan keseluruhan studi ini adalah memahami dengan lebih baik bagaimana Maya kuno mendukung sebuah populasi di Tikal yang berisi sekitar 60 ribu hingga 80 ribu penduduk dan populasi total yang diperkirakan lima juta orang di keseluruhan dataran rendah Maya tahun 700 Masehi.”

Beliau menambahkan, “Itu jumlah yang jauh lebih tinggi dari yang dapat didukung oleh lingkungan yang ada. Jadi, mereka berusaha mempertahankan masyarakat yang padat dan sangat kompleks tersebut dengan baik selama 1500 tahun di ekologi tropis. Sumberdaya yang dibutuhkan besar, namun mereka hanya menggunakan alat dan teknologi zaman batu untuk mengembangkan sistem manajemen yang memuaskan dan berjangka panjang untuk dapat berkembang.”

Pengambilan dan penyimpanan air penting dalam lingkungan dimana curah hujan bersifat musiman dan kekeringan besar tidak jarang terjadi. Dan karenanya, Maya dengan hati-hati mengintegrasikan lingkungan buatan – plaza yang luas, jaringan jalan raya, bangunan, dan parit-parit – menjadi sistem pengumpulan dan manajemen air. Di Tikal, mereka secara harfiah mengumpulkan semua air yang jatuh ke permukaan lapangan dan plaza berplester dan parit yang kemudian diarahkan dan disimpan di tangki-tangki ini.

Faktanya, pada periode klasik (250-800 M), bendungan (yang disebut Bendungan Istana) yang ditemukan tim peneliti dikonstruksi untuk mengandung air yang sekarang diarahkan dari banyak permukaan terplester dalam pengendalian pusat.

Bendungan inilah dimana tim berfokus pada penelitian mereka, yang selesai tahun 2010. Bendungan gravitasi ini menjadi tampilan arsitektur hidrolik terbesar yang diketahui di daerah Maya. Dalam ukuran Mesoamerika, ia hanya ditandingi oleh Bendungan Purron yang dibangun di lembah Tehuacan Meksiko suatu saat antara 250-400 M.

Menurut Scarborough, “Kami juga menyebut Bendungan Istana di Tikal sebagai Bendungan Jalan, karena bagian puncak struktur menjadi jalan raya yang menghubungkan satu bagian kota dengan bagian lainnya. Untuk waktu lama, ia dipandang sebagai jalan raya, sebagaimana dilihat oleh para wisatawan yang berkunjung saat ini. Walau begitu, penelitian kami sekarang menunjukkan kalau ia bertugas ganda dan digunakan sebagai bendungan reservoir penting sekaligus jalan raya.”

Penemuan lain oleh tim peneliti: untuk membantu memurnikan air saat ia dikirim ke tangki penampungan lewat aliran masuk dan parit, bangsa Maya menggunakan “kotak-kotak pasir” yang diposisikan secara teratur untuk menyaring air saat ia memasuki reservoir. “Tumpukan penyaring ini terdiri dari pasir kuarsa, yang tidak ditemukan secara alami di wilayah Tikal.

Bangsa Maya di Tikal perlu berjalan sekitar 30 kilometer untuk memperoleh pasir kuarsa untuk menciptakan saringan pasir mereka. Ini usaha transportasi yang besar-besaran. Ini bernilai ketika ia diletakkan di air dan menjadi bagian manajemen air,” kata Nicholas Dunning.

Menurut Ken Tankersley, “Kemungkinan kalau keseluruhan sistem reservoir dan fitur pengalihan air kuno, yang sangat adaptif dan tangguh untuk jarak jauh, membantu Tikal dan pusat-pusat lainnya bertahan dalam masa kekeringan ketika banyak lokasi lain harus ditinggalkan karena tidak adanya curah hujan.”

Paloebotanis UC David Lentz menjelaskan kalau manajemen air yang memuaskan yang dipraktekkan Maya kuno berpengaruh pada ketersediaan makanan, bahan bakar, herbal, dan kebutuhan lainnya. Ia menambahkan, “manajemen air Maya termasuk irigasi, yang langsung berdampak pada bagaimana banyak orang dapat diberi makan dan pertumbuhan populasi keseluruhan.

Sesuai dengan itu, penting untuk memahami jaringan parit dan reservoir di Tikal, yang melestarikan air saat musim kemarau dan mengendalikan banjir di musim hujan. Praktek ini memungkinkan Maya di Tikal mempertahankan kepadatan populasi yang tinggi selama beberapa abad.

Seiring evolusinya, sistem reservoir menjadi sangat tergantung pada curah hujan untuk memperoleh air. Di fajar abad ke-9, walau begitu, kekeringan begitu besar menyebabkan basis sumberdaya dan bangunan sosial di Maya Tikal menjadi tertekan. Perkembangan ini membawa pada ditinggalkannya kota ini.”

Pelajaran bagi Scarborough dan seluruh tim adalah hikmah yang dapat diambil dari penemuan sistem air seperti ini di Tikal kuno. Menurut Scarborough, “manajemen air di konteks kuno dapat diabaikan sebagai tidak relevan bagi krisis air kita sekarang karena kurangnya kemampuan teknologinya.”

Walau begitu, di banyak tempat di dunia sekarang, kebutuhan energi bahkan untuk pemompaan dan penyaringan – belum lagi penggantian bagian – menantang akses pada sumberdaya. Latar tropis dapat merupakan wilayah yang sulit karena banyaknya penyakit menular yang dapat hadir dari air yang tidak disaring.

Maya kuno, walau begitu, mengembangkan sistem penangkapan dan pengiriman air yang pintar berdasarkan pada reservoir yang tinggi dan dimuat secara musiman di dekat bagian utama dan arsitektur piramidal inti kota mereka. Alokasi dan potensialitas adalah masalah pembangunan penting bagi peradaban ini.

Dan yang menjadi pengulangan dari pertanyaan besar adalah, bagaimana dua lokasi di Pulau Jawa (Trowulan) dan Amerika Tengah yang begitu berjauhan memiliki kemampuan teknologi setinggi ini pada masa itu?

Apa yang dilakukan oleh para peneliti di Amerika Tengah ataupun di Trowulan, Sadahurip, Gunung Padang dan lainya mengingatkan pernyataan salah satu pendiri Indonesia, Bung Sjahrir: “history gives great enough opportunity to those with ideals and who struggle to test their ability to realize their dreams..” (Evy Siscawati/GK)

-
Sumber berita: (University of Cincinnati. Ref: Vernon L. Scarborough, Nicholas P. Dunning, Kenneth B. Tankersley, Christopher Carr, Eric Weaver, Liwy Grazioso, Brian Lane, John G. Jones, Palma Buttles, Fred Valdez, and David L. Lentz. Water and sustainable land use at the ancient tropical city of Tikal, Guatemala. PNAS, July 16, 2012 DOI: 10.1073/pnas.1202881109, Paparan hasil riset Tim Katastropik Purba.)

Kota Ditengah Bendungan

Kota Ditengah Bendungan

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>